Dinsdag 16 April 2013

Symphony Kehidupan


Saat ku buka mata, udara terasa sangat sejuk. Butiran-butiran embun masih terasa lembut di sudut-sudut pintu. Begitu lembut dan indah. Kususuri setiap jengkal tanah yang tak berpori dengan lunglai. Aku masih cukup lemas untuk bangun, mataku masih terasa berat, kantuk ini masih setia menggelayut di mataku. Namun ku coba bangkit, kupaksa mataku terbuka lebar. Bahkan ingin sekali ku ganjal mata ini dengan kayu yang begitu besar sehingga kantuk tersebut hilang.
Kuayunkan kakiku melangkah satu-persatu. Kumantapkan jejak langkah menyusur jalan hidupku. Kutatap tajam kedepan mencari apa yang aku tuju. Merayapi setiap sisiran-sisiran indah kenangan masa lalu. Merajut sisa-sisa rautan kisah dulu. Kukumpulkan serpihan-serpihan yang mungkin masih bisa bersatu. Namun kenapa semua hancur, musnah, hilang tersapu angin yang begitu kencang…sangat kencang sekali, sampai-sampai merobohkan diding penghalang yang begitu kuat menghadang…
Kucoba bertahan. Kuangkat lagi tanganku menggenggam setiap apa yang bisa aku genggam. Kugerakkan kakiku menapaki apa yang masih bisa aku pijak. Kubuka lebar mataku mengawasi sisa-sisa yang masih bisa aku pandangi. Kudengar sayup suara itu, begitu lirih dan merdu. Suara itu memanggil-memanggil seakan mengajakku pergi entah kemana. Aku dengar, aku rasakan, dan aku resapi lirih merdu suara itu. Dengan sabar aku menguntit, mencari-cari dari mana asal suara merdu itu. Namun semakin aku mencari, suara itu menjadi begitu lemah seakan menyatu dengan tanah. Aku tak tahu suara apa yang memanggilku. Mungkinkah itu sisa kenangan masa lalu…??? Atau mungkin itu suara panggilan masa depanku…???
Saat aku mencoba menemukan jawaban itu, tatap mataku tertuju pada suatu bentuk nyata yang hadir didepanku. Sesuatu yang cukup menyita perhatianku yang kosong saat itu. Sesuatu yang begitu merdu saat kudengar, begitu indah saat kurasakan, begitu menarik saat ku pandang. Aku begitu terpesona dengan suaranya, begitu terperangah dengan pola indahnya. Meskipun cukup samar pesonanya begitu memancar. Kucoba dekati dan mengenal asal suara itu. Begitu halus dan tulus. Mungkin aku tertarik kepadanya, aku benar-benar tertarik kepadanya. Namun rasa itu aku tahan. Aku tak mungkin melangkah lebih jauh menyusuri keindahan yang begitu tulus itu. Karena ada sesuatu yang tidak mungkin bisa aku hilangkan dari sebuah kenyataan. Meskipun begitu, aku masih bisa tetap merasakan keindahan dan ketulusan serta keluguan dan keihlasan yang begitu menarik perhatianku. Meski kurang aku tetap puas dan senang.

Terima kasih atas ketulusan dan keihlasan itu…

Hilang


Tawa itu kini hilang, tersapu gelombang yang menghantam. Hancur, remuk, cerai berai dalam aliran kesedihan. Ketakutan selalu menjadi teman. Kesengsaraan menyelimuti setiap jengkal badan. Tangisan, rintihan dan jeritan menggema, menggelegar sampai ke angkasa. Menderu-deru, meremukkan sendi-sendi yang kokoh. Menyayat pilu hati yang lara, dan merobohkan landasan-landasan kebahagiaan. Sunyi senyap menggoreskan rasa, menepis semua harapan tentang masa depan. Memupuskan angan-angan indah tentang kedamaian. Menghapus semua khayalan, merampas semua impian, merenggut rasa kebersamaan dengan hanya meninggalkan kenistaan dan kenestapaan dalam dimensi yang sangat nyata.
Mungkinkah semua kebahagiaan itu musnah? Akankah semua kenangan itu luluh lantah menyatu dengan tanah?. Benarkah pesona itu hilang tertelan jauh bersama dengan rasa bersalah??. Tidakk..!! semua kebahagiaan itu belumlah musnah. Kenangan-kenangan itu masih setia menyerta rasa. Pesona itu kini dihadirkan dalam lantunan aroma surga. Meliuk-liuk indah dalam balutan harapan. Mengangguk-angguk menikmati kebahagiaan, dan tenteram dalam belaian kedamaian.
Saat mentari datang menyapa pagi, bunga-bunga bermekaran menyambut asa, burung-burung berkicau menyerta keindahan hari yang baru. Kenangan indah itu masih setia hadir untuk menemui kita. Teringat akan sesosok makhluk indah yang kini entah dimana. Bayang itu masih terus menemani dalam setiap langkah. Memberikan pesona lama yang muncul dalam setiap jejak. Raut indah yang selalu hadir dalam dimensi yang begitu nyata. Membaur dengan sejuta kenangan yang pernah terangkai indah. Pesona itu begitu dalam memikat perasaan yang kosong dan hampa. Mengisinya dengan berbagai buaian dan belaian yang manis. Dibumbui dengan canda tawa yang riang. Seakan menghapus kesedihan yang sedang singgah.