Saat ku buka mata, udara terasa sangat sejuk. Butiran-butiran embun
masih terasa lembut di sudut-sudut pintu. Begitu lembut dan indah. Kususuri
setiap jengkal tanah yang tak berpori dengan lunglai. Aku masih cukup lemas
untuk bangun, mataku masih terasa berat, kantuk ini masih setia menggelayut di
mataku. Namun ku coba bangkit, kupaksa mataku terbuka lebar. Bahkan ingin
sekali ku ganjal mata ini dengan kayu yang begitu besar sehingga kantuk
tersebut hilang.
Kuayunkan kakiku melangkah satu-persatu. Kumantapkan jejak langkah
menyusur jalan hidupku. Kutatap tajam kedepan mencari apa yang aku tuju.
Merayapi setiap sisiran-sisiran indah kenangan masa lalu. Merajut sisa-sisa
rautan kisah dulu. Kukumpulkan serpihan-serpihan yang mungkin masih bisa
bersatu. Namun kenapa semua hancur, musnah, hilang tersapu angin yang begitu
kencang…sangat kencang sekali, sampai-sampai merobohkan diding penghalang yang
begitu kuat menghadang…
Kucoba bertahan. Kuangkat lagi tanganku menggenggam setiap apa yang
bisa aku genggam. Kugerakkan kakiku menapaki apa yang masih bisa aku pijak.
Kubuka lebar mataku mengawasi sisa-sisa yang masih bisa aku pandangi. Kudengar
sayup suara itu, begitu lirih dan merdu. Suara itu memanggil-memanggil seakan
mengajakku pergi entah kemana. Aku dengar, aku rasakan, dan aku resapi lirih
merdu suara itu. Dengan sabar aku menguntit, mencari-cari dari mana asal suara
merdu itu. Namun semakin aku mencari, suara itu menjadi begitu lemah seakan
menyatu dengan tanah. Aku tak tahu suara apa yang memanggilku. Mungkinkah itu
sisa kenangan masa lalu…??? Atau mungkin itu suara panggilan masa depanku…???
Saat aku mencoba menemukan jawaban itu, tatap mataku tertuju pada
suatu bentuk nyata yang hadir didepanku. Sesuatu yang cukup menyita perhatianku
yang kosong saat itu. Sesuatu yang begitu merdu saat kudengar, begitu indah
saat kurasakan, begitu menarik saat ku pandang. Aku begitu terpesona dengan
suaranya, begitu terperangah dengan pola indahnya. Meskipun cukup samar
pesonanya begitu memancar. Kucoba dekati dan mengenal asal suara itu. Begitu
halus dan tulus. Mungkin aku tertarik kepadanya, aku benar-benar tertarik
kepadanya. Namun rasa itu aku tahan. Aku tak mungkin melangkah lebih jauh
menyusuri keindahan yang begitu tulus itu. Karena ada sesuatu yang tidak
mungkin bisa aku hilangkan dari sebuah kenyataan. Meskipun begitu, aku masih
bisa tetap merasakan keindahan dan ketulusan serta keluguan dan keihlasan yang
begitu menarik perhatianku. Meski kurang aku tetap puas dan senang.
Terima
kasih atas ketulusan dan keihlasan itu…